Senin, 07 November 2011

..Penyembahan..

Pernah gag siy nangis-nangis waktu penyembahan? Pernah berpikir alasannya kenapa?
Sering banget kita, saat sedang menyembah TUHAN, nangis-nangis bombay (ampe semua lubang di muka keluar aer :p) gara-gara masalah yang berat. Entah keingetan di marahin mama tadi pagi, berantem ma temen, di putusin pacar, gag punya uang buat biaya kuliah, disakitin, dan lain-lain.makanya, setelah penyembahan selesai, terkadang ada rasa lega, tapi begitu masalah itu muncul di benak kita, kita inget lagi. Padahal Yesus bilang tiap yang dateng sama Dia akan di beri kelegaan (Matius 11:28), tapi kita udah nangis-nangis berjam-jam digereja, kok tetep gag lega yak? Yang ada mata bengkak, idung sembab, napsu makan lenyap.. terus apa fungsi nyembah TUHAN kalau gitu?
Terkadang, motivasi kita gag bener saat dateng penyembahan. Kita dateng karna kita ingin masalah kita selesai dengan instan. Udah cape mungkin terus larut sama keadaan diri. Bukannya jadi tenang, kita tambah panik saat kita mendapati masalah kita bukannya selesai tapi malah tambah ribet padahal kita udah nyembah TUHAN ampe mimisan. Janji TUHAN jadi kayak lagu Endang, “janji janji tinggal janji..” . terus yang salah siapa? Yesus bilang Dia bakal kasih kelegaan.. (Matius 11:28a) tapi kenapa saya gag dapet kelegaan itu? Karena kamu Cuma baca ayat depannya ajj, coba baca ayat setelahnya.. “pikulah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu..” (Matius 11:29a), -kuk adalah alat yang bebankan kepada sapi atau kerbau untuk membajak - Kelegaan yang Yesus janjikan berarti ada sebuah harga yang harus dibayar, dalam hal ini berarti penyangkalan diri. Mendatangi Yesus dengan motivasi untuk belajar, bukan hanya sekedar melepaskan “kegalauan “ dengan cara instan. Yesus bukan tempat pelarian, melainkan tempat berlari! Saat Yesus dalam keadaan berbeban berat, Dia tidak lari melainkan berserah (Matius 26:42-46). Jawaban dari doa bukan selalu sebuah jalan keluar, tapi terkadang hal itu adalah kekuatan untuk menanggung apa yang sedang kita alami. Sama seperti saat rasul Paulus meminta TUHAN mengangkat beban yang dia sebut duri dalam daging, TUHAN menjawab, cukuplah kasih karuniaKu untukmu.. yang berat, terkadang, kita begitu larut dalam masalah kita hingga melupakan makna sesungguhnya penyembahan, yang kita jadikan ajang curhat dan meratapi masalah kita, akhirnya, kelegaan gag muncul, malah terus larut dalam kesedihan berkepanjangan. Menyembah TUHAN berarti kita menanggalkan masalah kita dan larut dalam hadirat TUHAN, dalam Perjanjian Lama penyembahan berarti tindakan dan sikap segenap hati memberikan diri kita kepada Allah (Ulangan 6:5, Matius 15:8-9, Roma 12:1), bukan karena emosi, sebab emosi itu naik turun sedangkan penyembahan itu harusnya stabil (habakuk 3:17-18).
Raut wajah adalah ekspresi hati, raut wajah sedih berarti ekspresi hati yang tidak bersyukur. Sewaktu raja menyadari kesedihan pada wajah Nehemia, Nehemia ketakutan. Wajah sedih bisa berarti bahwa dia tidak senang dengan pelayanan Raja, da mungkin berarti kematiannya. Datang kehadapan raja dengan hati yang tidak gembira adalah penghinaan. Datang ke hadirat TUHAN dengan ekpresi yag tidak gembira adalah indikasi bahwa kita tidak gembira dengan apa yang telah diberikan, dilakukan dinyatakan dan direncanakan TUHAN bagi kita.
Dalam segi lain, penyembahan juga melibatkan hati yang hancur (Mazmur 51:18-19). Seperti halnya dalam Perjanjian Lama, binatang yang hendak dipersembahkan harus secara fisik dihancurkan terlebih dahulu sebelum dibunuh agar persembahan tersebut berkenan dan menyukakan hati Allah. Persembahan tersebut melambangkan persembahan diri mereka. Penyerehan kehendak dan keinginan pribadi, karena itu hewan yang dipersembahkan tidak boleh bercacat dan bercela. Hati yang hancur berarti Pertobatan hati,kita tidak harus merasa malu apabila kita tidak dapat datang dalam hadiratNya dengan perasaan gembira setiap saat. Yang jelas, hati merindukan Allah yang sungguh-sungguh lebih berharga dari seribu korban bakaran sekalipun.
Menyembah TUHAN berarti kita harus mau melepaskan pengampunan, bukan meminta TUHAN menghakimi (Matius 5:23-24). Banyak dari kita yang gag tau bahaya sakit hati hingga memilih hidup dalam kepahitan. Padahal, TUHAN tidak pernah membela orang yang sakit hati, sekalipun kita berpendapat kita adalah korban orang-orang yang jahat. Yesus berkata “ampunilah..” “berapa kali TUHAN?” Petrus bertanya, “Tujuh puluh kali tujuh kali..” (Matius 19:21-35). TUHAN yang Kudus mau mengampuni kita, siapa kita hingga tidak mau mengampuni orang lain? Dia sendiri mati untuk bisa mengampuni kita. Apakah kita harus mati untuk bisa mengampuni orang lain? Tidak kan?! Yang harus mati adalah keegoisan kita.
Penyembahan dalam bahasa Yunani Proskuneo artinya seperti seekor anjing menjilat tangan tuannya, digunakan paling sedikit 59 kali. Pernah liat seekor anjing yang lari-lari liat tuannya? Sekalipun si tuan dateng bawa kapak, dia gag jadi takut tapi dengan sukacita nyamperin itu tuan, tanpa punya pikiran si tuan bakal menggal dia. Gag pedulli tuannya lupa kasih dia makan, tiap dia ketemu tuannya, dengan gembira dia jilatin tangan tuannya. Beginilah bentuk penyembahan seharusnya, gag peduli Sang Tuan membantu membereskan masalah kita saat itu juga ada beberapa waktu lagi lamanya, menyembah tetap jadi suatu kerduan, bukan menjadi ajang ratapan. Penyembahan itu bukan tentang diri kita, melainkan tentang kebesaran TUHAN. Gag peduli seberat apapun masalahmu, Dia tetap Allah yang Maha Baik. Nabi Habakuk berkata, “sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan buah makanan, kambing domba terhalau dari kurungan dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak dalam TUHAN, beria-ria dalam Allah yang menyelamatkan aku..” (Habakuk 3:17-18). Tidak peduli masalah yang akan menimpanya saat itu, Habakuk tetap berkata “aku akan beria-ria..” luar biasa bukan?
Menyembah Tuhan berarti percaya bahwa TUHAN mampu menyediakan jalan keluar untuk apa yang kita alami, arti kata lain, kita melepaskan masalah kita dan mengucap syukur penuh atas kebaikanNya, sekalipun kita belum bisa melihatnya!
Buah dari penyembahan yang benar:
- Mengalami kelepasan
Kisah Rasul 16:25-26 “kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah.. terjadilah gempa bumi yang hebat.. dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.” Penyembahan menuntun kita kepada kuasa kelepasan yang mengubah hidup dan melepaskan kita dari segala keterikatan.
- Allah mendatangi kita dengan keuntungan
 Mazmur 16:7 “Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadakku.”
 Mazmur 18:4 “terpujilah TUHAN, seruku: maka akupun selamat daripada musuhku”
 Mazmur 18:20 ”..Ia menyelamatkan aku karena Ia berkenan kepadaku..”
 Mazmur 92:5 “sebab telah Kau buat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaanMu”
Penyembahan Alkitabiah adalah penyembahan yang berdasarkan konsep Allah dan bukan konsep kita. Penyembahan yang sejati tidak pernah mengatakan sesuatu tentang hak-hak kita. Saat menyembah, berarti kita memberikan otoritas penuh kepada TUHAN agar kita dapat bertemu denganNya dan bertumbuh dalam iman. (Contoh, Kejadian 22 – Abraham mempersembahkan Ishak).

Mengenai Saya